Kaur || Beritaantara2.online – Kepedulian mendalam dan keseriusan mutlak diperlihatkan Pemerintah Kabupaten Kaur menyikapi ancaman bahaya yang setiap tahunnya merenggut nyawa warga. Menanggapi catatan kelam di mana aliran Air Manjau kerap memakan korban jiwa akibat karakteristik arus yang bisa berubah drastis menjadi ganas secara mendadak, pemerintah daerah mengambil langkah tegas dan strategis untuk memutus mata rantai musibah ini.
Rapat koordinasi khusus penanggulangan bencana dan pengamanan kawasan Air Manjau akhirnya digelar pada Rabu (20/05/2026). Rapat ini dilaksanakan atas perintah langsung dan arahan tegas Bupati Kaur, Gusril Pausi, S.Sos., M.A.P., yang secara khusus menugaskan Wakil Bupati Kaur, Abdul Hamid, S.Pd.I. untuk memimpin langsung jalannya pertemuan tersebut sekaligus menjadi ujung tombak pelaksanaan ke lapangan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pimpinan daerah menempatkan isu keselamatan warga di urutan teratas prioritas pembangunan dan pelayanan.
Pertemuan penting ini dihadiri seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait, unsur pimpinan TNI/Polri, perwakilan pemerintah desa, hingga para ketua gugus relawan kebencanaan. Suasana berlangsung sangat serius, kritis, namun dipenuhi semangat kebersamaan yang tinggi. Fokus utama yang dibahas bukan sekadar laporan rutin, melainkan penyusunan skema kerja nyata, terukur, dan efektif demi menghentikan deretan musibah yang terus berulang setiap tahun. Pasalnya, Air Manjau dikenal memiliki bahaya laten; debit airnya bisa berubah dari tenang menjadi sangat deras dan mematikan dalam hitungan menit saja, manakala hujan lebat turun di wilayah hulu, sering kali tanpa disadari oleh warga yang sedang beraktivitas di bagian hilir.
Wakil Bupati Kaur, Abdul Hamid, S.Pd.I., yang memimpin rapat mewakili Bupati, menyampaikan pesan dan arahan utama dari Kepala Daerah dengan nada yang sangat tegas dan penuh keteguhan hati. Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Kaur di bawah kepemimpinan Gusril Pausi sudah tidak bisa lagi bersikap diam atau hanya menjadi penonton atas jatuhnya korban jiwa yang terus berulang. Nyawa warga dinilai tidak ternilai harganya, sehingga segala potensi bahaya harus diputus sejak dini dengan tindakan nyata, bukan sekadar himbauan belaka.
“Ini adalah amanah dan perintah tegas dari Bapak Bupati Gusril Pausi kepada kami semua. Beliau sangat memperhatikan hal ini, merasa terpanggil dan sedih mendengar terus berjatuhnya korban di Air Manjau. Beliau berpesan, kita sudah cukup melihat dan mendengar duka cita ini berulang kali. Setiap tahun selalu ada nama yang hilang, selalu ada keluarga yang menangis. Ini sudah cukup, dan harus berhenti sekarang juga. Pemerintah Daerah TIDAK AKAN MEMBIARKAN lagi warga kita terus menjadi korban karena kurangnya pengawasan atau kelalaian. Kami tidak mau lagi ada berita duka dari lokasi itu. Oleh karena itu, atas nama pimpinan daerah, saya perintahkan seluruh instansi dan pihak terkait untuk bergerak cepat, turun ke lapangan, dan bekerja tuntas. Jangan ada lagi alasan dan jangan ada lagi keterlambatan,” tegas Abdul Hamid, menyuarakan tekad kuat pimpinan daerah melindungi rakyatnya.
Dalam arahannya yang rinci dan terukur, Abdul Hamid memerintahkan instansi teknis terkait untuk segera menindaklanjuti sejumlah langkah strategis. Pertama, pemasangan papan peringatan bahaya yang berukuran besar, tulisan jelas, dan mudah dibaca dari jauh di setiap titik rawan serta akses masuk ke aliran sungai. Papan ini harus memuat peringatan keras mengenai bahaya arus yang bisa naik mendadak, agar siapa saja yang datang langsung paham risiko maut yang mengintai.
Kedua, ia memerintahkan pemerintah desa dan tokoh masyarakat untuk lebih proaktif dan agresif dalam melakukan sosialisasi serta pengingatan kepada warga. Seluruh elemen diminta menyampaikan pesan keras: DILARANG KERAS mendekat, bermain, maupun beraktivitas di bantaran sungai manakala hujan mulai turun atau mendung tebal terlihat menggantung di arah hulu. Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah warga merasa aman karena di tempatnya tidak turun hujan, padahal di hulu curah hujan sangat tinggi sehingga air bah meluncur deras tanpa peringatan suara gemuruh.
“Banyak warga kita yang masih menganggap enteng atau mengabaikan kondisi ini. Mereka merasa aman karena cuaca di sekitar cerah, tapi lupa bahwa Air Manjau ini menghubungkan ke daerah hulu yang kondisinya berbeda. Inilah jebakan yang mematikan. Oleh sebab itu, aparat desa harus jadi garda terdepan, terus mengingatkan, bahkan berani menegur warga maupun pendatang yang nekat mendekat saat kondisi berisiko,” tambahnya.
Selain penguatan sistem peringatan dini dan sosialisasi, pemerintah daerah juga menyusun strategi pengawasan dan keamanan terpadu. Koordinasi erat akan dibangun bersama aparat keamanan, pemerintah desa, dan gugus relawan kebencanaan. Nantinya, patroli rutin dan terpadu akan digelar, khususnya saat prediksi cuaca ekstrem atau saat curah hujan tinggi melanda wilayah Kaur. Kehadiran fisik petugas di lapangan diharapkan mampu menjadi benteng awal yang mencegah warga terjebak arus.
Tidak hanya itu, upaya edukasi juga digencarkan hingga ke lingkungan sekolah. Pemerintah mendorong materi keselamatan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam ini disampaikan kepada para pelajar, agar kesadaran menjaga diri tumbuh sejak dini dan terbawa hingga ke masyarakat luas.
Sementara itu, dalam diskusi yang berlangsung, para peserta rapat juga mengusulkan langkah konkret tambahan. Di antaranya adalah perlunya penambahan peralatan keselamatan standar seperti pelampung, tali penolong, dan rambu pengaman yang dipasang permanen di titik-titik rawan. Tak kalah penting, usulan yang paling mendesak adalah percepatan pembangunan fisik berupa fasilitas pengamanan permanen dan penataan kawasan, agar aliran sungai yang kerap berubah drastis tersebut lebih terkontrol dan aman bagi warga.
Merespons usulan tersebut, Wakil Bupati Abdul Hamid menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kaur melalui arahan Bupati Gusril Pausi akan memprioritaskan hal ini. Berbagai usulan teknis tersebut akan segera dipetakan kebutuhannya dan diupayakan pemenuhannya melalui alokasi anggaran yang tepat, demi satu tujuan mulia: menjamin keselamatan dan nyawa masyarakat dari ancaman Air Manjau yang ganas.
“Kami tegaskan sekali lagi, sebagaimana amanah Bapak Bupati, keselamatan warga adalah harga mati. Apapun langkahnya, apapun biayanya, asalkan untuk melindungi nyawa rakyat Kaur, akan kita kerjakan dan kita cari jalannya. Kita ingin Air Manjau ini kelak bukan lagi menjadi tempat yang menabrakkan duka dan air mata, tapi menjadi kawasan yang aman, tertata, dan membawa manfaat ekonomi bagi warga,” pungkas Abdul Hamid, S.Pd.i., menutup rapat penuh tekad dan tanggung jawab.
(Okawa)